Liburan yang Mengagumkan
Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku adalah seorang perempuan yang selalu ingin dipuji oleh orang tuanya, tapi tidak perduli dengan adiknya. Hari ini ayah mengajak kami liburan. Pada hari sekolah biasanya ayah berjanji untuk mengajak kami berlibur, tapi ternyata ia juga yang mengingkari janji itu. Sebelum pergi berlibur, kami sekeluarga voting untuk menentukan tujuan liburan kami. Setelah perdebatan dan perkelahian antara adik dan kakak, kamipun sepakat untuk pergi ke kebun binatang.
Sebelum kami masuk dan membayar tiket masuk ke kebun binatang, kami disuguhkan oleh pamandangan badut badut dan para fotografer yang sedang memotret para pengunjung untuk mengabadikan momen mereka. Setelah orang tuaku membeli tiket, kamipun melihat hewan hewan yang berasal dari seluruh dunia. Liburan kami diakhiri dengan menonton pertunjukan hewan laut. Sebelum kami memasuki mobil untuk pulang, kami melihat para fotografer dan badut badut itu masih ada dan masih melayani para pengunjung. Lalu ibuku mengajak untuk berfoto bersama badut badut itu.
Setelah berfoto ibuku mengajak kami pulang. Tapi sebelum pulang, aku dan ayah meminta izin untuk pergi ke toilet. Sesampainya di sana, aku buang air kecil duluan dan langsung keluar toilet tanpa ayahku. Aku pikir aku ingat jalan menuju ke mobil, ternyata aku nyasar ke tempat badut badut tadi beristirahat. Salah satu badut bertanya padaku "Ada apa nak? Orang tuamu dimana?" aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Lalu ada badut lain yang membuka kostumnya dan mengatakan "Sini om anter ke tempat orang tuamu yuk?" dengan senang akupun menuruti om badut itu.
Setelah mengikuti om badut, aku sadar kalau aku semakin jauh dari kebun binatang. Lalu akupun bertanya kepada om badutnya "om, ini dimana? Sepertinya semakin jauh dari kebun binatang" lalu om badut menjawab "sstt, sebentar lagi sampai kok". Ternyata sesampainya di sana hanya ada rumah kosong yang terlihat menyeramkan dan tidak berpenghuni. Om badut menyuruhku untuk masuk kedalam rumah itu, tapi aku menolak karena di dalam sana pasti sangat menyeramkan. Om badut itupun marah dan langsung mendorongku masuk rumah itu, lalu mengunci pintu. Ternyata ada 3 preman yang sedang menungguku. Aku ditarik, di masukkan ke sebuah ruangan, di suruh duduk di kursi dan diikat supaya tidak kabur.
Karena perlakuan mereka yang kasar, tanpa sadar akupun menangis dan tidak melihat ke sekitar. Setelah lelah menangis, ternyata dari tadi ada yang berusaha untuk memanggil diriku "hey, hey kamu yang disana, diamlah nanti para penjahat itu dengar dan memarahi kita". Aku terkejut ternyata ada 6 anak di ruangan yang sama. "kalian tahu? Kita lebih banyak dari mereka, kita bisa melawan mereka" celetuk anak yang paling tinggi, lalu dia menambahkan "aku ini jago karate, kalian bisa mengandalkanku". Akupun bertanya "kalau kau bisa karate, lalu kenapa bisa disini?" Anak itu menjawab "aku ... aku ... takut sama badut". Lalu semua anak tertawa, anak berkacamata mengingatkan "shhtt, nanti mereka dengar ". Kamipun diam dan mulai membuat rencana yang akan kami lakukan di esok hari.
Sarapan datang, kami diperbolehkan untuk membuka ikatan di tangan kami. Sembari makan, kami diam diam menyembunyikan 1 garpu untuk membantu membuka ikatan tali nanti. Setelah makan, kami menjalankan rencana untuk kabur. Setelah tali terlepas, kami langsung menyingkirkan barang barang yang menutupi jendela. Kami tahu ada jendela disitu karena sebelum aku datang, ternyata mereka telah mencari cara untuk keluar. Setelah membuka jendela, kamipun keluar satu per satu. Belum sempat aku keluar dari sini, para preman itu langsung menutup jendelanya. Aku dan salah satu temanku masih terjebak di dalam. Kami diikat kembali dan mulut kami juga ditutup.
Aku pikir teman temanku yang diluar sana pergi meninggalkan kami. Tapi ternyata, saat para preman itu sedang fokus mengikat. Teman temanku memukul kepala mereka dari belakang. Para preman itu pingsan, kami pun dapat keluar. Kami langsung ke kebun binatang dengan harap keluarga kami masih ada dan menuggu kami disana. Ternyata benar, keluarga kami masih ada di sana disertai dengan para polisi yang memegang catatan. Kamipun memeluk mereka semua sambil menangis. Kejadian anehnya, ternyata kakakku pun ikut manangis. Akupun bertanya untuk menjahilinya "kenapa menangis? kakakkan tidak pernah peduli padaku". Lalu kakakku menjawab" Aku menangis karena diomeli ayah ibu tau, bukan karna kamu". Tapi kakakku tetap menangis dan memelukku dengan erat.